Bekerja Sama Dengan Tim - Perempuan November : Dulu saya selalu bertanya-tanya, kenapa point yang satu ini kerap kali saya lihat di syarat-syarat untuk menduduki sebuah posisi di iklan lowongan kerja. Memangnya ada orang yang nggak suka atau nggak bisa kerja bareng tim? Bukannya justru asik kalau kerja bareng tim. Satu tujuan besar kita dikerjakan bergotong royong.
Saat kuliah, belajar berorganisasi, trus kerja dan bergaul sana sini, sekarang baru benar-benar paham kenapa point ini selalu ada di iklan lowongan kerja. Meski kita makhluk sosial, tapi tetap saja kita adalah individu-individu yang berbeda satu sama lain. Ada orang-orang yang bisa dengan mudah bekerja sama dengan siapa saja. Ada yang bisa bekerja sama namun dengan orang-orang tertentu saja, orang-orang yang bisa ‘klik’ satu sama lain. Ada pula yang sulit beradaptasi dan memang lebih cocok kalau kerja sendiri.
Mengusahakan agar langkah kita seirama dengan tim ternyata nggak mudah loh. Kalau diadakan penelitian, saya yakin, ada perusahaan-perusahaan yang akhirnya bangkrut karena karyawannya nggak solid. Timnya nggak menyadari akan pentingnya sebuah keselarasan kerja. Atau mungkin, mereka memang bukan orang-orang yang cocok untuk bekerja sama.
Ketika kita bekerja sendiri, kita menanggungjawabi semuanya sendiri. Saat kerja kita bagus, kita seorang yang akan menerima pujian. Sebaliknya, saat kinerja kita jelek, kita sendiri pula yang menanggungnya. Tak ada sangkut-pautnya dengan orang lain. Baik-buruknya kinerja kita, ya cuma kita yang merasakan dampaknya. Berbeda ketika kita berkerja dalam tim. Masing-masing orang sudah memiliki job desk-nya masing-masing yang menjadi tanggungannya. Namun, walau punya tanggungan sendiri, baik-buruknya kinerja kita berhubungan dengan orang lain dan tim secara umum.
Misal nih ya kalau tim dalam sebuah media, katakanlah koran harian ataupun majalah. Masing-masing memiliki bagian namun saling berhubungan dalam penentuan hasil akhir. Secara sederhana anggap saja ada tiga bagian : reporter, fotographer, lay-outer. Agar majalah bisa dicetak, semuanya harus bekerja sama dan saling membantu serta menaati tanggal deadline yang sudah ditentukan. Kalau misalnya si reporter sudah menulis semua beritanya namun sang fotographer belum menyetor foto atau belum berhasil mendapatkan foto yang bagus, tentu sang lay-outer tak bisa bekerja karena bahan belum terkumpul semua. Atau malah sebaliknya, sang fotographer sudah melakukan tugasnya dengan baik, namun tulisan belum juga selesai. Atau malah misalnya reporter dan fotographer sudah bekerja dengan baik, namun si lay-outernya ternyata lalai dalam pekerjaannya, ia salah meletakkan foto dan tulisannya. Tulisan yang bagus, foto yang bagus, jika lay-outernya tidak bagus, hasil akhir majalahnya juga tidak akan maksimal.
Ini masih tim dalam lingkup kecil, bagaimana lagi ya kalau dalam lingkup besar. Kesalahan satu orang berdampak pada satu tim ataupun satu perusahaan. Bukankah ini mengerikan *lebai*.
Ada yang punya pengalaman tentang bekerja sama dengan tim? Share doong disini :)














