Hujan Sore Kemarin - Perempuan November : Kemarin sore hujan. Saya kegirangan bahagia walau rencana buka puasa di luar jadi batal dan rumah jadi gelap karena listrik padam. Sueeer… saya bertepuk tangan gembira menyambut gemuruh pertama hujan sore itu. Rasanya kerinduan pada hujan ini sudah sangat menggunung dan ingin diluahkan.
Saya pun naik ke lantai atas dan bergegas menuju teras. Tempat favorit saya saat hujan ya di teras atas itu. Biasanya saya akan berlama-lama berdiri disitu. Memandangi sekeliling dan membiarkan jiwa saya ramai oleh pikirian apa saja. Rencana apa saja. Dan bercerita apa saja. Dan kebiasaan waktu kecil yang masih kerap saya lakukan hingga kini pun pastinya akan muncul : menengadahkan tangan dan membiarkan air hujan yang tercurah dari atap rumah jatuh di telapak tangan saya. Menikmati angin dan tempias hujan yang menerpa tubuh, memberikan sensasi dingin yang menyegarkan *eh kok kalimatnya kayak iklan apa gituh*. Ah, klasik dan klise, tapi saya menikmatinya.
Ternyata tidak hanya saya yang bergembira karena hujan sore itu. orang-orang di gang tempat saya mengontrak rumah terlihat bersuka-cita. Anak-anak berlarian main hujan-hujanan dengan riangnya. Anak laki-laki bermain bola. Anak perempuan berkejaran sepanjang gang sambil berteriak girang. Mereka mandi hujan sambil tertawa cekikikan, saling melempar busa shampoo di kepala mereka ke masing-masing temannya. Haiiiss.. saya jadi iri melihat keceriaan mereka. Ingin ikut mandi hujan. Tanpa sadar saya jadi ikut tertawa melihat kebahagiaan sederhana tersebut. Rasanya seperti melihat diri sendiri sedang asik hujan-hujan bersama para sahabat *di titik ini, saya jadi kangen teman-teman yang pernah berbagi tawa sambil berhujan-hujanan*.
![]() |
![]() |
| Tuh kan, orang dewasa juga ikut ujan-ujanan |
Kamu yang di Medan, ada yang sebahagia saya dan warga gang kontrakan saya saat menyambut hujan sore kemarin?









