NONTON BARENG FILM UNTUK ANGELINE : BERURAI AIR MATA

11.15

berurai air mata
Nonton bareng film Untuk Angeline
Nonton Bareng Film Untuk Angeline : Berurai Air Mata – Masih ingat kasus Angeline? Gadis kecil yang awalnya dinyatakan hilang namun akhirnya diketahui dibunuh ibu angkatnya dan mayatnya dikubur di kandang ayam? Tahun lalu kasus Angeline mencuat dan membuat masyarakat geram dan mengecam keras kekerasan terhadap Angeline yang dilakukan ibu dan para saudara angkatnya.

Sebenarnya ada banyak kasus kekerasan pada anak yang terjadi di Indonesia. Hanya saja sedikit yang terkuak publik. Gemparnya kasus Angeline ini membuat banyak pihak tergerak untuk bersama-sama mengkampanyekan gerakan melawan kekerasan terhadap anak. Tak ketinggalan para sineas film di negeri ini.

Film Untuk Angeline adalah film yang terinspirasi dari kasus Angeline beberapa waktu lalu. Film garapan rumah produksi Citra Visual Cinema ini adalah film kedua yang saya tonton selepas lebaran. Sebelumnya, seminggu setelah lebaran saya menonton film Rudi Habibie bersama seorang kawan.

Baca juga : Film Rudi Habibie (Habibie Ainun 2) : The Power of Childhood

Film Untuk Angeline tayang perdana di bioskop tana air pada Kamis 21 Juli 2016. Saya menonton bersama kawan-kawan dari KOPI (Koalisi Online Pesona Indonesia) Medan pada penayangan perdananya. Sedikit informasi, KOPI adalah semacam wadah berkumpulnya jurnalis dan blogger yang senang berbagi hal-hal positif baik itu tentang film, seni, maupun hal lainnya.

koalisi online pesona indonesia
KOPI, Koalisi Online Pesona Indonesia
Awalnya, disepakati hendak menonton di Palladium Mall, tapi kemudian lokasi nonton dialihkan ke Hermes Place Medan karena ternyata pak Jokowi main ke Medan *main? dikira lagi hepi-hepi cantik si mr. President. Kunjungan ciiin.. kunjungan, ngomongin tax amnesty sama para pengusaha Medan*. Kebetulan lokasi acaranya mr. President di hotel Santika yang letaknya emang deketan dari Palladium Mall. Udah pasti bakal macet kan. Jadi atas pertimbangan itu lokasi pun berganti.

Kita sepakat nonton yang jam 12.15 WIB. Saya datang bareng Kak Tiwi. Di parkiran jumpa sama Kak Tami *yang ternyata junior saya di organisasi kampus*. Sampai di XXI Hermes Place udah ada Kak Hera, Kak Akieb, Temennya Kak Akieb, Kak Windo, dan Kak Akbar. Menyusul kemudian Kak Funy dan Kak Windy. Kak Ulfa dan Kak Kinah datang barengan beberapa saat sebelum film dimulai.

Langsung nonton? Nggak lah, foto-foto dulu dooong. Namanya juga insan yang hidup di jaman dimana  sosial media dianggap bagian dari eksistensi diri, so foto-foto wajib hukumnya *tapi di samping itu emang dasarnya kami gilfot sih, a.k.a gila foto*. Ulfa ngeluarin tongsisnya. Dan Kak Windy pun dengan tanpa paksaan merelakan hapenya buat mengabadikan kebersamaan siang itu. Oke, narsis dimulai, 1,2,3.. cekrek!

foto bareng
Wefie dulu..

narsis
Namanya juga ngumpul, so pasti foto-foto nggak ketinggalan

Saking asiknya wefie kami sampai jadi bahan perhatian pengunjung XXI lainnya. Bahkan ketika jalan menuju studio filmnya, Kak Windy dan Kak Tami sampai mau belok ke studio 3 padahal nontonnya di studio 6. Iyalah salah belok, wong fokusnya ke kamera mulu :D

About the film, udah pasti tau lah ya ceritanya tentang apa. Secara ini film memang terinspirasi dari kisahnya Angeline. Saya pribadi jujur sebenarnya nggak suka film beginian *film sedih maksudnya*. Bukan apa-apa, rasa-rasanya nonton sambil nahan nyesek di dada karena kebawa cerita sedih film tersebut itu kok ya gimana gituh. Gini-gini saya orangnya mudah tersentuh dan mewek loh. Jadi biasanya saya bakal nggak mau nonton film sedih karena selain mudah tersentuh saya juga bukan tipe cewek yang kemana-mana bawa tisu *kan nggak kece kalau saya ngelap air mata pakai jilbab*. Saya juga males nonton film laga dan perang-perangan karena menurut saya itu bikin capek. Genre film lain yang saya hindari adalah film horror karena seringnya hantunya nggak serem cuma sound dan musiknya sering buat kaget dan jantungan.

So, biasanya saya sih nonton film yang ringan-ringan, menghibur, tetapi juga punya pesan kuat untuk disampaikan ke penonton.

Trus kenapa mau nonton bareng film Untuk Angeline? Alasannya ada 2 sih : karena saya mendukung segala bentuk usaha untuk melawan kekerasan terhadap anak dan karena ini adalah kopdar pertama saya dengan kakak-kakak di KOPI. Iya jadi ceritanya saya baru beberapa waktu lalu bergabung dengan KOPI. Kita komunikasinya lewat grup WA aja. Jadi waktu ada yang mencetuskan ide buat nonton bareng film Untuk Angeline sekaligus kopdaran, saya langsung semangat ikut.
indonesian movie
Pamer tiket :D kopdar sekaligus nonton

Awal film dibuka dengan adegan di pengadilan dimana Samidah (ibu kandung Angeline, diperankan oleh Kinaryosih) bersaksi di pengadilan atas kasus kematian putrinya. Kemudian lompat ke adegan Samidah melahirkan di rumah sakit. Miskinnya kehidupan Samidah dan Santo (suaminya, diperankan oleh Teuku Rifnu Wikana) membuat pasangan ini tak mampu membayar biaya persalinan.

Pertengkaran kecil pun terjadi. Santo sebagai suami merasa tertekan dan tak tahu harus mencari dana dimana. Kendati begitu, ia menolak mentah-mentah saat Samidah mengusulkan untuk menjual satu-satunya sepeda motor mereka.

Santo kemudian memutuskan untuk menyerahkan anaknya kepada Terry dan Jhon, pasangan suami istri yang tengah mencari anak perempuan untuk diadopsi. Sebagai kompensasi, Jhon dan Terry melunasi semua biaya persalinan dengan catatan Samidah dan Santo boleh menemui Angeline setelah Angeline berusia 18 tahun.

Awalnya Samidah menolak mentah-mentah. Naluri keibuannya tak rela jika harus berpisah dengan darah dagingnya. Tapi atas bujukan suaminya dengan alasan agar anak mereka bisa hidup layak, ia pun akhirnya setuju meski dengan hati teriris perih.

5 tahun berlalu. Samidah meninggalkan Bali untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Namun jarak dan waktu tampaknya tak bisa membuat Samidah melupakan anaknya. Ia terus saja teringat dan merindukan sosok Angeline. Sebaliknya, Angeline tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas dan bahagia karena Jhon begitu menyayangi dan mengutamakannya. Hal ini membuat ibu dan abang angkatnya, Kevin cemburu. Mereka begitu membenci Angeline karena perhatian Jhon banyak tercurah padanya. Alhasil, mereka pun selalu berusaha untuk mencelakai Angeline.

Hidup Angeline berubah drastis sejak kematian Jhon. Siksaan tak henti-henti ia terima dari ibu angkatnya. Ia tak lagi punya papa yang selalu melindunginya. Nilu, pembantu rumah tangga keluarga itu pun tak bisa berbuat banyak untuk menolong gadis kecil nan malang itu.

Menonton film besutan sutradara Jito Banyu ini memang menyesakkan dada. Apalagi teman yang duduk di samping kiri, kanan dan belakang saya pada sentrap-sentrup semua, berurai air mata karena tak tega melihat penyiksaan demi penyiksaan yang diterima Angeline *sentrap-sentrup itu,, mmm… apa ya bahasa Indonesianya. Itu loh kalau kita nangis kan hidung kita beringus tuh. Dan karena ingusan jadi pas narik napas melalui hidung kedengaran bunyi yang khas kayak kita lagi flu itu loh. Ah itu lah itu pokoknya*.

Rasa kemanusiaan kita seakan diaduk-aduk dan dibuat geram dengan kekejaman sosok Terry sebagai ibu angkat yang seakan tak punya nurani, menyiksa anak kecil yang seharusnya justru dikasihi. Tak hanya kisah pedih Angeline dan siksaan yang diterimanya. Drama kehidupan rumah tangga Samidah pun tak kalah menyayat hati. Bekerja sebagai pembantu rumah tangga, menabung untuk memperbaiki taraf hidup, eh malah dikhianati suami sendiri. Uang yang ia kirim kan ke suaminya malah dipakai Santo untuk nikah lagi. Tinggalnya di rumah yang dibangun dengan hasil keringat Samidah pula. Malang nian.

Kemiskinan dan kecemburuan, inilah 2 poin yang saya tangkap di film Untuk Angeline ini. Kemiskinan memang kerap menyeret siapa saja dalam hidup penuh kepedihan. Mirisnya, kemiskinan seakan seperti penyakit pemicu penyakit lainnya. Komplikasi. Kemiskinan membuat Samidah dan Santo dalam pengetahuan yang sangat minim tentang hukum hingga mereka pasrah saja anaknya diadopsi tanpa berkas yang jelas. Kemiskinanlah yang memaksa mereka merelakan putri satu-satunya diasuh orang lain. Sementara kecemburuan Terry dan Kevin membuat hati mereka diselimuti dendam terhadap Angeline dan akhirnya berujung pada siksaan demi siksaan. Pada dasarnya mereka sama-sama miskin. Bedanya, Sumidah dan Santo miskin materi dan pengetahuan. Sedangkan Terry dan Kevin miskin hati dan kasih sayang. Sementara Angeline adalah korban dari kedua pihak ini.

Mengenai akting, saya rasa Roweina Umboh yang berperan sebagai Terry layak mendapat acungan jempol. Sosok ibu angkat yang kejam diperankan dengan apik oleh Roweina. Ekspresi kejamnya itu dapet banget loh menurut saya.

kopi medan
Habis film terbitlah wefie :D

Sepanjang film diputar, pikiran saya melayang pada sosok Angeline dalam kehidupan nyata. Membayangkan siksaan demi siksaan yang diterimanya bertahun-tahun sejak papanya tiada. Dulu, saat kasus Angeline mencuat, saya sempat tak percaya kasus itu benar-benar terjadi. Seperti di film-film dan sinetron saja. Tapi nyatanya kasus Angeline adalah fakta. Dan bukan tidak mungkin ada Angeline-Angeline lain yang harus menghabiskan masa kanak-kanak dengan tragis dan menyedihkan. Untuk itulah film ini dibuat. Untuk mengingatkan kita agar lebih aware terhadap sekeliling. Juga agar kita bisa mengambil tindakan jika mengetahui ada kasus-kasus kekerasan pada anak yang terjadi di lingkungan kita.


untuk angeline
Niatnya kak Hera foto dengan background poster film Untuk Angeline, tapi ya begitulah hasilnya :D

Untuk para orang tua, film Untuk Angeline mengajak untuk lebih melek hukum. Sesulit apapun kondisi ekonomi keluarga, sebisa mungkin untuk tetap mengasuh sendiri anak kita. Kalaupun harus diadopsi, setidaknya harus sesuai peraturan yang berlaku, juga berkas-berkas yang lengkap.

Yaps, itulah cerita saya tentang Nonton Bareng Film Angeline : Berurai Air Mata. Kalian, atur jadwal gih buat nonton film ini. Ajak teman dan keluarga. Mari kita dukung film Indonesia dan stop kekerasan terhadap anak.

foto bareng
Sebelum pulang cekrak-cekrek dulu kakaaa.. kali ini minus kak Windy karena si kakak buru-buru balik ke kantor :)


NB : Foto-foto tanpa watermark adalah foto dokumentasi KOPI Medan.

  • Share:

You Might Also Like

12 komentar

  1. Aku kayaknya nggak bakal tega nonton film ini Mbak. Membaca kisahnya di media masa lalu membaca juga review filmnya di sini, pulang-pulang aku pasti akan terbayang wajah memelas Angeline. Jadi berdua saja saya bawa sekarang si gadis cantik itu sudah berbahagia di surga

    BalasHapus
    Balasan
    1. tapi biar begitu tetap layak untuk ditonton kok film Untuk Angeline ini. Banyak pelajaran yang bisa diambil dengan menontonnya langsung :)

      Hapus
  2. Aku benci dengan semua bentuk kekerasan, terhadap apapun dan siapapun, mau hewan apalagi manusia. Tapiiii... hmmm... berkaca dari pengalaman tragedi berdarah yang terjadi di keluargaku tahun lalu, aku urung dan memutuskan untuk gak akan menonton film ini Di. Karena pasti akan ada adegan 'kekerasan' yang muncul. Mungkin, mungkin ya... trauma itu masih ada :(. Siapa yang sanggup menyaksikan film yang penuh kesedihan n penderitaan lahir batin ini, karena aku udah pernah melihat sendiri hasil "penyiksaan" berujung pada kematian di rumah keluargaku dulu :(. Apapun itu, aku mendukung gerakan anti kekerasan.. tapi ngga mau lagi mengeluarkan air mata karena melihat kekerasan :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kakak #hug
      Diah paham gimana rasanya. menonton film yang mengandung adegan kekerasan berpeluang untuk membuka luka lama buat kakak dan keluarga sejak peristiwa itu.
      film ini pun sejatinya tak bermaksud membuka luka lama, hanya mencoba mengingatkan, di luar sana mungkin saja ada Angeline-Angeline yang lain yang perlu uluran tangan kita.
      Dan memang di film ini adegan-adegan kekerasan tidak diperlihatkan secara vulgar. namun begitu, mungkin karena kita sudah tau kejadian Engeline di kehidupan nyata, jadi tetap mudah terhanyut suasana.

      yook kak, kita tebarkan cinta kasih, tidak hanya untuk manusia, tapi juga hewan dan alam, mudah-mudahan dengan begitu kekerasan bisa berkurang jumlahnya :)

      Hapus
  3. Reviewnya legit banget kak,
    Ahh, suka dengan tulisan ini..

    Iya kak, semoga setelah ada film ini, orang-orang nggak sembarangan lagi memperlakukan anak-anak ya. Biar dia tau efek hukumannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih kak Kinah. ini sebenarnya tulisan lebih banyak curhatnya ketimbang review-nya :D

      aamiin, kalau sineas perfilman bergerak lewat karya film, yook kak kita sebarkan pesan-pesan kebaikan lewat tulisan, biar lebih banyak lagi yang terketuk hatinya.

      Hapus
  4. Yang mau nonton tapi khawatir ttg adegan kekerasannya, tenang aja...tongkat ketegaan yg ditampilkan blak2an masih wajar sih, cuma ya feel penyiksaan berkepanjangan ttp dapat kok. Karena begitu ceritanya. Bagi yg mau buat film juga bagus. Jadi untuk menyampaikan suatu kekerasan tak harus selalu menunjukkannya. Bisa diperhalus tanpa melulu adegan bar_bar.

    Review versi diah kece banget. Review skalian curhat😄😄😄👌👌👌

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju dengan dikau Tiwi :D, untuk menggambarkan kekerasan, tak harus dengan adegan abr-bar :)

      aku mah gitu Wi, review-nya 30% curhatnya 70% hahhahaa...

      Hapus
  5. rame ya cewek-ceweknya,, *gagal fokus,,,

    wahh, kopdar pertama, gimana cara gabungnya di KOPI?

    Kok Jadi pengen nonton juga jadinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahhaaaiii.. bisa gitu ya sampai gagal fokus. Mmm.. gabungnya gimana ya?? kasih tau nggak ya.. hehheee... nanti aku bilangin ke pengurus yaaa, palingan syaratnya disuruh ngajak kami wisata bareng medan wisata :D

      eh iya, nonton lah film Untuk Angeline nya :)

      Hapus
  6. Tahun lalu waktu kami ke Bali itu pas heboh2nya kasus ini. Driver yg menjemput kami di bandara berinisiatif antar kami ke lokasi TKP. Aku foto lokasi TKPnya saja. Bukan selfie. Ga tegalah. Itu kan saksi bisu terjadinya siksaan thd seorang anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, kadang malah ada yang selfie di lokasi terjadi bencana ataupun kejadian tragis ya mbak. miris -_-

      Hapus