MENYENANGKAN SI GUFIS DI LAPANGAN PARASAMYA KISARAN

22.09

bermain skuter

Menyenangkan si Gufis di Lapangan Parasamya Kisaran : Seperti yang saya ceritakan di postingan kemarin kalau saya seringkali lupa untuk menuliskan apa yang sudah saya rencanakan untuk ditulis. Dan kemarin saat melihat-lihat file, saya baru sadar ada banyak hal yang saya lewatkan untuk saya bagi.

So, saya pun mulai menuliskannya satu persatu. Do’akan konsisten ya.

Dimulai dengan hari pertama di tahun ini. Momen tahun baru saya habiskan dengan pulang kampung. Sebenarnya saya maupun keluarga nggak punya kebiasaan merayakan tahun baru sih. Cuma karena kebetulan bertepatan dengan liburan anak sekolah. Jadilah ibu semangat nelfon ponakan dan bilang :
“Kalian taun baru kesini ya, diajak unde jalan-jalan. Mau diajak ke Lapangan Parasamya. Lebaran kemarin kan nggak diajak kesana sama unde.”

Saya cuma melongo aja dengar ibu ngomong gitu di telfon. Padahal saya kan nggak ada bilang nyuruh mereka liburan ke rumah neneknya. Memang sih sehabis lebaran saya ada cerita ke ibu kalau saya jalan-jalan ke Parasamya dengan sepupu dan ternyata disana banyak permainan anak-anak. Coba kalau kemarin waktu si Dinda dan Gufis ngajak minta jalan-jalan trus diajak ke situ kan seru sepertinya. Menjelang akhir tahun, tanpa disangka-sangka si ibu masih ingat kata-kata saya dan tanpa bertanya langsung nyuruh keponakan tahun baruan di kampung.
lapangan parasamya kisaran
Aneka permainan anak di Lapangan Parasamya Kisaran
Untungnya saya nggak ada kerjaan pas tahun baru. Palingan ajakan tahun baruan bareng teman-teman, kalau itu masih bisa dilewatkan lah. Lagian kan udah sering jalan-jalan sama teman di Medan. Sama keluarga yang jarang. Jadi ya nggak ada salahnya saya tahun baruan di rumah.

Cuma si Gufis yang liburan di kampung. Si Dinda *ponakan saya yang satunya lagi, kakak sepupunya Gufis* nggak bisa datang karena adiknya masih kecil, jadi disuruh emaknya bantuin jaga adik. Si Gufis ini sebenarnya namanya Rufa, cuma saya memanggilnya Gufis karena giginya gerifis khas anak-anak yang suka makan permen. Anak pertama dari abang saya yang nomor 3. Sekarang kelas 3 SD.

Pas malam tahun baru, si Gufis ini tiba-tiba suhu badannya naik. Besoknya juga masih sedikit demam. Kami sempat berpikir untuk gagal jalan-jalan supaya Gufis istirahat. Tapi yang ada si Gufis malah merengek untuk tetap pergi. Okelah, kami pun berangkat.
nenek dan cucunya
Singga ke stasiun KA dulu, cek tiket kepulangan saya ke Medan
Tujuan kami adalah lapangan Parasamya. Sebuah lapangan di kota Kisaran yang lapangannya justru dipenuhi oleh berbagai permainan anak. Penjual makanan juga banyak di lapangan ini. tampaknya lapangan ini sudah beralih fungsi. Dulu saat masih sekolah di Kisaran, saya sering datang ke lapangan ini *tahun 2003-2006*. Duduk-duduk di pendopo bersama teman ataupun nyantai sambil kulineran di pinggiran lapangan yang dijajari penjual. Tengah lapangan dulu hanya rumput hijau dengan tiang bendera di tengahnya. Sekarang semuanya penuh oleh pedagang dan arena bermain anak.
otoped
Si Gufis berjalan di depan. Btw, lantai pendoponya lumayan jorok :D
Begitu sampai, si Gufis malah bingung mau main apa saking banyaknya permainan. Setelah keliling dan melihat-lihat, akhirnya dia minta naik mainan berbentuk helikopter. Tarif mainan ini hanya 5 ribu sepuasnya. Pokoknya kalau si anak belum minta turun ya lanjut terus. Ini sebenarnya permainan rada kurang cocok buat si Gufis. Dia udah kegedean. Cocoknya buat anak yang lebih kecil dari dia. Kelihatan dari badannya yang udah besar terkesan timpang dengan besar helikopternya. Ibaratnya seperti pakai baju kekecilan gitu :D

helikopter
Gufis naik wahana helikopter yang kekecilan untuk dirinya
Bosan berputar dengan helicopter, kami pun mencari permainan lain. Masuk ke area pendopo yang sudah berfungsi jadi area bermain skuter anak-anak. Melihat anak-anak asik bermain skuter, si Gufis pun sibuk minta main skuter. Saya menyetujui dengan catatan ia harus bertanya sendiri ke orang yang menyewakan skuter. Maksudnya sekalian ngajarin Gufis buat ngusahain sendiri apa yang dia mau dan berani berinteraksi dengan orang asing. Kan sering tuh anak-anak berani rewelnya sama ortunya aja, giliran berhadapan dengan orang lain langsung malu dan mengkeret.

Si Gufis setuju untuk bertanya sendiri ke penyewa skuter. Saya lupa berapa tarifnya, kalau tidak salah 10 ribu.

Cukup lama Gufis main skuter bareng anak-anak lain. Saya dan ibu cuma duduk cerita-cerita sambil melihat kemana arah skuter Gufis. Meski bermain skuter adalah pengalaman pertamanya, tapi ia cepat belajar. Awalnya ia masih terlihat kaku mengatur kecepatan lewat pijakan kaki, namun sebentar saja ia sudah terlihat santai dan terbiasa. Berbeda dengan beberapa anak yang masih saja tak paham mengatur kemudi hingga menabrak anak lainnya. Padahal sudah didampingin orang tuanya. Mungkin karena di kampung si Gufis sudah terbiasa bersepeda kali ya, jadi cepat menyesuaikan.
otoped
Si Gufis main skuter
Usai bermain skuter, kami istirahat makan. Si Gufis beli arum manis dan popcorn. Cuma acara mengisi kampung tengah ini nggak ada saya dokumentasiin. Mungkin karena keasikan makan kali yak.

What’s next? Kita naik odong-odong, sihiiiyy… banyak odong-dong disini. Kita tinggal pilih saja. Dari yang bentuknya biasa-biasa saja sampai yang dihias-hias ala-ala kereta putri raja. Oya, sebelum naik odong-odong kami beli pop ice blender dulu. Lalu naik odong-odong sambil nyeruput pop ice. Sebenarnya saya kurang setuju dia beli es. Cuma karena ini bagian dari perjanjian saat makan siang tadi *dia mau makan siang kalau minumnya pop ice* yasudahlah saya setuju sambil berharap demamnya nggak tambah tinggi.
pop ice blender
Kekeh minta pop ice, padahal lagi demam :(

Saat naik odong-odong ini saya ikut menemani Gufis sementara ibu menunggu di pendopo. Tarifnya per orang 5 ribu rupiah. Saya perhatikan permainan disini tarifnya berkisar 5-10 ribu. Lebih murah dari yang saya perkirakan.
kisaran
bergaya di odong-odong
Saya kira rute odong-odongnya hanya di seputaran lapangan saja. Ternyata cukup jauh. Masuk ke jalan Imam Bonjol di kota, lalu kembali lagi ke Parasamya. Kalau di 2 permainan sebelumnya tak terikat waktu alias sampai bosan, tidak demikian dengan odong-odong. Ketika odong-dong sampai kembali di Parasamya, itu artinya kami harus turun. Atau membayar lagi jika masih ingin naik.
supir odong-odong
Berhubung duudk tepat di belakang supir, jadi bisa mendokumentasikan pak supir dari belakang :D
Kami pun turun dan bersiap hunting permainan lain. eh si Gufis ternyata masih ingin main skuter. Jadilah kami balik ke pendopo dan menyewa skuter lagi. Kali ini ke penyewa berbeda dari sebelumnya. Disini memang ada beberapa orang yang menyewakan skuter. Meski arena bermainnya sama.

Baru sekitar 15 menitan main, eh si penyewa datang, minta skuternya. Katanya sudah habis waktunya. Lah… bukannya bebas waktunya. Saya pun protes, si ibu pemilik skuter kekeh bilang udah setengah jam. Waktunya setengah jam. Saya pun malas berdebat. Saya bayar saja. Usai saya bayar skuter pun berpindah ke penyewa yang lain. Hmm.. pantesan maksa, ada orang lain yang nyewa dan skuternya sedang disewa semua. Tapi harusnya nggak gitu juga kali. Maksa bener beliau mah.

Usai main skuter yang kedua kalinya, kami pun pulang ke rumah. Dalam perjalanan singgah sebentar di Danau Teratai, sebuah danau kecil yang menjadi tempat rekreasi warga kampung. Baru kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah. Cukuplah hari itu untuk menyenangkan di Gufis dengan bermain sesukanya.
nenek dan cucu
Si Gufis dan nenek di Danau teratai

Kalian pernah ngajak ponakan jalan-jalan? Kemana?


  • Share:

You Might Also Like

8 komentar

  1. Waah, seru jugaaa.. aku belum pernah jalan2 sama ponakan, paling sama adik

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku anak paling kecil mbak, jadinya nggak punya adik. punyanya ponakan, jadinya ponakan deh yang diajak :)

      Hapus
  2. Beberapa kali ngajak ponakan jalan2... dari mulai jalan2 ngemall sampe ke bonbin segala hahaha. Yg penting mereka happy :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyaaps.. yang penting mereka happy ya mbak. Diah juga pernah ngajak mereka ke bonbin pas lebaran sebelumnya :)

      Hapus
  3. Enak y bayar sekali main sepuasnya
    Berarti klo mainnya setahun trus g pulang2 tetep bayar sekali y?
    Itu sopir odong2nya udah punya anak perawan blom y?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenapa Nik? kamu pengen punya mertua supir odong-odong ya?!

      Hapus
  4. Potongan rambut gufis lucu deh mbak hihihi
    Izin follow blognya yaa mbak.. jangan lupa folback.
    Salam kenal :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal mbak Gia, dan terima kasih sudah follow blog saya :)

      wah.. saya malah baru perhatiin potongan rambutnya setelah mbak Gia bilang :D

      Hapus